Tes Psikologi SIM, Komunitas: Lebih Penting untuk Angkutan Umum

Jakarta – Polda Metro Jaya sebelumnya berencana menerapkan tes psikologi bagi masyarakat yang ingin membuat surat izin mengemudi (SIM). Tapi, penerapan ujian psikologi untuk pemohon SIM ditunda.

Tes psikologi dianggap penting untuk pengendara karena menyangkut sikap pengendara di jalan raya. Namun, komunitas pengguna mobil memandang, tes psikologi lebih penting untuk pengemudi angkutan umum daripada pengemudi pribadi.

Seperti yang disampaikan Ketua Umum Velozity, Bambang Bangun Wibowo, penerapan tes psikologi bagi pemohon SIM lebih baik difokuskan pada pengemudi angkutan umum. Sebab, pengemudi angkutan umum punya lebih banyak risiko dan tanggung jawab.

“Kalau untuk angkot memang lebih penting ke psikologisnya, karena dia bukan sekadar mengemudikan angkutan pribadi, tapi angkutan umum di mana dia akan membawa banyak orang,” ujarnya saat ditemui di acara Halal Bihalal Toyota Owner Club (TOC) 2018, di Jakarta, Sabtu (23/6/2018).

“Jadi dari psiklogis-nya memang dibutuhkan mental yang kuat, tidak hanya keterampilannya,” tambah Bambang.

Karena hampir setiap saat pengemudi angkutan umum membawa orang lain itu-lah, kata Bambang, tes psikologi untuk mendapatkan SIM semestinya difokuskan kepada pengemudi angkutan umum. Namun bukan berarti untuk pengemudi pribadi tidak penting sama sekali.

“Nah jadi dari efek beban penumpang yang dibawanya itu tentunya banyak yang harus diperkuat dari sisi mental pengemudinya. Kalau pengemudi pribadi penting juga, perlu juga, tapi nggak seperlu pengemudi untuk angkutan umum,” katanya.

Menurutnya, tetap tes keterampilan mengemudi dan rambu-rambu serta aturan lalu lintas, lebih penting bagi pengendara pribadi ketimbang psikologi.

“Pada dasarnya baik-baik saja, tapi lebih penting ke keterampilan pengemudinya sebenarnya dan pengetahuan atas rambu-rambu lalu lintas, itu yang penting,” tutur Bambang. (khi/rgr)

Sumber Berita: detik.com